Sabtu, 04 November 2023

Relevansi Pemikiran Ki Hajar Dewantara Dari Masa Ke Masa

Indonesia memiliki sejarah panjang dan kelam untuk dapat melepasakan "dirinya" dari genggaman para penjajah. Perjuangan ini membuahkan sebuah kemerdekaan bagi penduduk Indonesia, dan perjuangan ini juga melahirkan banyak pemikir yang konsen pada bidangnya dalam hal ini pemikir yang konsen pada pendidikan Indonesia kedepan. Tokoh pemikir tersebut diantaranya Ki Hajar Dewantara yang mewarisi pemikirannya yang sangat fenomenal dan menjadi icon Pendidikan Indonesia dari masa ke masa hingga saat ini. Salah satu pemikirannya adalah ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. 

Pemikiran Ki Hajar Dewantara tersebut memiliki nilai yang relevan dengan kultur dan budaya Indonesia dari masa ke masa hingga saat ini bahkan yang akan datang, dimana nilai-nilai keteladanan, kebebasan berpikir, dan motivasi menjadi sebuah konsep dan value yang mewarnai dunia pendidikan. Keteladanan menjadi prinsip penting dalam dunia pendidikan, karena sosok pengajar menjadi barometer anak didiknya dalam berprilaku. Begitu juga dengan prinsip kebebasan berpikir berkorelasi dengan fitrah manusia yang dianugerahi Tuhan yaitu akal untuk dapat menganalisa, melahirkan segala hal. Begitu pun dengan prinsip motivasi menjadi stimulus untuk maju dan bertransformasi bagi anak didiknya yang memiliki beragam karakteristik. Namun, problematika muncul ketika prinsip tersebut hanya menjadi sebatas slogan semata, para pemangku kebijakan tidak menafsirkan dan menterjemahkan kepada para pendidik secara komprehensif, maka kegagalan adaptasi pendidikan di masa sekarang menjadi sebuah keniscayaan terealisasi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Ditambah lagi dengan sikap dan perilaku para pendidik yang tidak memiliki kepekaan secara aktif memahami dan mengimplementasikannya dalam dunia nyata di sekolah. Maka, kegagalan tersebut bisa terlihat dari deskripsi output siswa yang tidak memiliki kompetensi skill apapun hanya sebatas lulus dan mendapatkan legalitas ijazah. 

Saya merasakan urgensi implementasi pemikiran KHD di era digitalisasi saat ini menjadi prioritas dasar. Mengingat karakteristik peserta didik saat ini yang unik dan pogresive efek dari arus globalisasi dan keterbukaan. Akan kokoh pondasi peserta didik jika pemikiran KHD ini dilakukan re-implementasi secara komprehensif di semua jenjang pendidikan di Indonesia. 

Kamis, 26 Oktober 2023

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.4

 BUDAYA POSITIF

Oleh : Sulaiman
CGP Angkatan 9 
SMP Negeri 17 Tangerang Selatan

Kali ini saya akan menulis mengenai refleksi kegiatan-kegiatan pelatihan yang sudah dilalui, khususnya pada modul 1.4 tentang Budaya Positif. Dalam menulis jurnal refleksi ini saya menggunakan model 1 yaitu model 4F (1. Fact; 2. Feeling; 3. Findings; dan 4. Future), yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P (1. Peristiwa; 2. Perasaan; 3. Pembelajaran; dan 4. Penerapan)

1. Facts (Peristiwa)

Setelah saya mempelajari modul 1.1 tentang Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hadjar Dewantara, modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak, dan modul 1.3 Visi Guru Penggerak. Setelah itu, saya beserta CGP Angkatan 9 Kota Tangerang Selatan mulai mempelajari modul 1.4 tentang Budaya Positif, secara daring menggunakan LMS Pendidikan Guru Penggerak, kegiatan ini menggunakan alur yang disebut dengan alur MERDEKA yaitu:

(1) Mulai dari diri

Saya mulai mempelajari modul 1.4. dengan membuka tautan mulai dari diri. Di sini saya mendapat tugas untuk menjawab empat pertanyaan, yakni 1) pentingnya menciptakan suasana positif di lingkungan; 2) bagaimana saya menciptakan suasana positif di lingkungan saya; 3) hubungan antara menciptakan suasana positif dengan proses pembelajaran yang berpihak kepada murid; 4) penerapan disiplin saat ini di sekolah saya, apakah sudah diterapkan dengan efektif, bila belum, apa yang masih perlu diperbaiki dan dikembangkan.

Selain empat pertanyaan itu, saya juga menjawab pertanyaan yang isinya tentang refleksi diri, harapan untuk diri sendiri, harapan kepada siswa, dan ekspektasi.

(2) Eksplorasi konsep

Pada eksplorasi konsep, saya belajar enam materi esensial di modul 1.4. Budaya Positif, diantaranya:

1) Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal;;

Menerapkan sebuah disiplin merupakan sebuah tanggung jawab dalam proses mendidik murid di sekolah. Penerapannya tentu harus berkolaborasi dengan seluruh pihak: menanamkan keteladanan dan kesadaran bahwa disiplin melatih kita untuk bertanggung jawab dan menghargai suatu hal salah satunya waktu.

2) Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi;;

bahwa sebagai guru kita harus bisa menempatkan diri dan waktu yang tepat dalam menerapkan motivasi termasuk didalamnya penghargaan dan hukuman. Motivasi instrinsik adalah focus utama yang harus dibangun karena sifatnya lestari.

3) Keyakinan Kelas;;

Keyakinan kelas, merupakan sebuah gagasan yang diyakini oleh kelas dengan penuh kepercayaan yang berasal dari hati dan sukarela atau senang hati melaksanakan keyakinan yang dibuat.

4) Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas;;

Kebutuhan dasar manusia ada lima, kesenangan, penguasaan, kasih sayang dan diterima, kebebasan, dan bertahan hidup. Tolok ukur bahagia seseorang ketika kelima kebutuhan dasarnya telah terpenuhi dengan baik.

5) Restitusi - Lima Posisi Kontrol;;

Posisi kontrol guru, ada lima posisi dalam kontrol budaya positif yaitu posisi penguhukum, pembuat merasa bersalah, teman, pemantau, manajer. Dari kelima posisi kontrol guru posisi manajer adalah paling ideal, karena ketika guru sudah di posisi ini, ia sudah bisa menempatkan diri sebagai teman dan pemantau untuk mewujudkan identitas yang berhasil.

6) Restitusi - Segitiga Restitusi;;

Segitiga restitusi merupakan tahapan penyelesaian konflik atau masalah dalam penerapan budaya positif. Langkahnya: menstabilkan identitas (stabilize identity), validasi Tindakan yang salah (validation of unbehaviour), dan menanyakan keyakinan (seek the belief).

(3) Ruang kolaborasi

Ruang kolaborasi dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah diskusi dengan anggota kelompok, dan yang kedua adalah bagian presentasi hasil diskusi kelompok. Semua itu dilakukan melalui GMeet yang dipandu oleh fasilitator yaitu Ibu Nida Nurfaidah. Pada ruang kolaborasi ini, kami dibagi menjadi 3 kelompok dan saya berada dikelompok 1 bersama Bapak Samsul Bahri, Ibu Uswatun Hasanah, dan Tri.

Hasil dari diskusi dan slide presentasi ruang kolaborasi kelompok saya, bisa dilihat video berikut ini:

https://online.fliphtml5.com/okihg/gwmn/


(4) Demonstrasi kontektual

Pada demontrasi kontekstual ini, saya mendapatkan tugas membuat dua skenario penerapan segitiga restitusi. Setelah scenario dibuat, saya membuat video penerapan segitiga restitusi bersama siswa. Tugas demonstrasi kontekstual yang saya buat dapat dilihat dari video berikut ini:




Di bagian ini, saya ditugaskan untuk memberikan pertanyaan yang dapat menguatkan pemahaman saya tentang isi modul 1.4. Budaya Positif.

Pertanyaan yang akan mengguatkan pemahaman saya akan materi konsep di modul 1.4 adalah:

1. Bagaimana cara yang paling tepat untuk mengimplementasikan Budaya Positif dan Nilai-nilai Kebajikan yang harus berpihak pada murid?

2. Apa yang harus kita lakukan jika kita menghadapi siswa yang bermasalah dengan segitiga restitusi, tetapi siswa tersebut tidak ada perubahan sama sekali?

Saya juga melakukan elaborasi pemahaman dengan instruktur melalui Gmeet pada tanggal 12 Oktober 2023 pukul 13.00 – 14.30 WIB. Instruktur yang memandu kegaiatan elaborasi adalah Bapak Suhartono.

(6) Koneksi antar materi

Bagian ini adalah pengaitan antar materi yang sudah saya pelajari mulai dari modul 1.1, 1.2, 1.3, dan 1.4. Tugas di bagian ini adalah menjelaskan pemahaman saya tentang konsep-konsep inti yang telah saya pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Saya juga diminta untuk menjelaskan hal yang menarik dan di luar dugaan saya. Saya juga membuat rancangan aksi nyata sebagai persiapan pelaksanaan aksi nyata modul 1.4.

Tugas koneksi antar materi Modul 1.4 Budaya Positif, dibuat dalam bentuk video yang sudah di upload youtube pada link dibawah ini: 



(7) Aksi nyata

Aksi nyata berisi pemahaman saya tentang modul 1.4. yang diterapkan secara nyata. Di aksi nyata ini saya akan melaksanakan Disiminasi Penerapan Budaya Positif di sekolah yang dilakukan pada hari Senin, 22 Oktober 2023 diruang BK yang dihadiri oleh 7 guru BK dan 3 perwakilan guru dan PKS.

Selain melakukan kegiatan sesuai alur M-E-R-D-E-K-A, pada hari Rabu, 17 Oktober 2023 saya mengerjakan post test modul 1.4.

2. Feelings (Perasaan)

Selama saya mempelajari Modul 1.4. Budaya Positif, Persaaan yang senang dan tertantang. Hal paling menarik dalam pelaksanaan budaya positif sebelum mempelajari modul ini adalah meyakini bahwa penghargaan (reward) adalah salah satu hal yang dapat memicu motivasi. Tapi ternyata penghargaan sama nilainya dengan hukuman.

Ketika memberikan penghargaan kita seolah telah menghukum orang tersebut. Dikatakan demikian karena dengan pemberian penghargaan kita sebenarnya tengah memotong dan menjegal kreativitas seseorang sehingga secara tidak langsung tengah membelajarkan sifat kebergantungan pada "hadiah".

Oleh karena itu, saya akan selalu berusaha memberikan pelayanan pendidikan dengan keteladanan dan dorongan positif pada murid yang dapat menggugah motivasi intrinsik murid tersebut.

semangat karena di modul 1.4. ini saya bisa mempelajari materi tentang budaya positif yang memberikan pencerahan saya tentang penerapan budaya positif di sekolah. Saya bisa lebih paham tentang nilai-nilai kebajikan, posisi kontrol guru, teori motivasi, keyakinan kelas, segitiga restitusi, dan lain-lain. Saya bangga karena saya memiliki kesempatan untuk mempelajari materi yang sangat luar biasa dan sangat bermanfaat ini. Saya senang karena bisa berkolaborasi dengan teman CGP lain untuk membuat presentasi tentang analisis kasus berdasarkan konsep budaya positif.

3. Findings (Pembelajaran)

Saya akan terus belajar dan memberikan keteladanan dalam proses menumbuhkan budaya positif di lingkungan sekolah. Terus menanamkan pemahaman pribadi bahwa budaya positif akan hadir ketika pikiran kita sudah positif.

Betapa besarnya kekuatan dari sebuah pikiran. Maka berangkat dari sebuah teori, mudah-mudahan saya pribadi bisa bersama-sama dengan seluruh unsur sekolah mewujudkan karakter-karakter positif di lingkungan sekolah yang bisa membudaya.

Di Modul 1.4. saya mendapatkan materi tentang konsep-konsep budaya positif, yakni:

1) Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal

2) Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi

3) Keyakinan Kelas

4) Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas

5) Lima Posisi Kontrol

6) Segitiga Restitusi

Saya juga bisa membuat contoh penerapan segitiga restitusi bersama siswa yang bisa digunakan untuk contoh bagi guru lain yang belum mengetahui tentang segitiga restitusi untuk membangun budaya positif di sekolah.

4. Future (Penerapan)

Setelah mempelajari modul 1.4 tentang budaya positif, saya akan terus melakukan perbaikan diri dan memberikan keteladanan pada murid-murid agar budaya positif bisa tercapai dan terus dilaksanakan secara kontinyu dalam proses pembelajaran di sekolah.

Melakukan terus pendekatan dari hati ke hati dengan murid-murid saya, berusaha menyelami dunia mereka agar lebih memahami kebutuhan yang diperlukan mereka dalam mencapai merdeka belajar sehingga tujuan akhir agar mereka bisa memaknai proses pendidikan ini dengan menyenangkan dan menyadari betapa pentingnya pendidikan untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka kelak, dengan demikian akan terwujud murid dengan profil pelajar Pancasila.

Demikian refleksi dwi mingguan modul 1.4. yang bisa saya tuliskan. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Tergerak, Bergerak, Menggerakkan

Berikut ini Rancangan Aksi Nyata:



Diseminasi budaya positif di sekolah



Kamis, 28 September 2023

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.3

 Modul 1.3
Visi Guru Penggerak

Sulaiman
CGP Angkatan 9
SMPN 17 Tangerang Selatan

Assalamu'alikum, Wr.Wb

Pada kesempatan ini saya Sulaiman calon guru penggerak angkatan 9 dari SMPN 17 Tangerang Selatan. Saya akan menuliskan jurnal refleksi dwi mingguan modul 1.2 tentang Visi Guru Penggerak. Jurnal ini adalah sebuah tulisan tentang refleksi diri setelah mengikuti kegiatan pelatihan yang ditulis secara runtin setiap dua mingguan, serta salah satu kewajiban yang harus dibuat oleh setiap calon guru penggerak.

Dalam penulisan jurnal refleksi kali ini Saya masih sama dengan jurnal sebelumnya menggunakan  model 1, yaitu 4 F (fact, feeling, findings, dan future) yang diprakasai oleh Dr. Roger Greenaway.

1. Facts (Peristiwa)

Setelah saya mempelajari modul 1.1 tentang Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hadjar Dewantara, dan modul 1.2. tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak. Kemudian saya beserta CGP Angkatan 9 Kota Tangerang Selatan mulai mempelajari modul 1.3 tentang Visi Guru Penggerak, secara daring menggunakan LMS Pendidikan Guru Penggerak, kegiatan ini menggunakan alur yang disebut dengan alur MERDEKA yaitu:

(1) Mulai dari diri

Saya mulai mempelajari modul 1.3. dengan membuka tautan mulai dari diri. Di sini saya mendapat tugas untuk membuat gambaran imajiku tentang murid di masa depan. Jadi, saya harus membuat satu gambar mengenai murid yang saya dambakan 5-10 tahun mendatang. Saya juga menjelaskan situasi murid, peran guru, juga suasana sekolah sesuai dengan cita-cita saya. Pada tugas ini impian murid saya adalah murid yang bisa memberikan manfaat pada orang lain, yang tentunya juga gambaran dari profil Pelajar Pancasila. Mengimajinasikan sosok murid impian adalah hal yang selama ini tidak terpikirkan, saya baru baru tersadar bahwa seharusnya seorang guru memiliki impian indah tentang murid-muridnya di masa depan dan memotivasi diri untuk mewujudkannya. Berikut tugas yang saya lampirkan :

(2) Eksplorasi Konsep

Di bagian eksplorasi konsep, saya diberi pengantar tentang paradigma inkuiri apresiatif. Di bagian pengantar, saya juga diberi puisi pemantik yang berjudul “Aku Melihat Indonesia” karya Soekarno. Setelah itu, saya mempelajari materi tentang “Berpikir Strategis”, “Inkuiri Apresiatif sebagai Paradigma”, “Inkuiri Apresiatif sebagai Pendekatan Manajemen Perubahan (BAGJA)”, “Tahapan BAGJA”, “Proses Inkuiri dalam BAGJA”, dan “Amati - Tiru – Modifikasi”. Setelah itu, saya melakukan refleksi mandiri tentang pengalaman yang sudah dilakukan menggunakan kanvas BAGJA. Tugas ini dapat diakses melalui tautan:

https://docs.google.com/presentation/d/1ePv3i8Y9cpa1UZ2KKU2OWpLkwi7PIDY5YfUzrEb7SjQ/edit?usp=sharing

Setelah itu saya, melakukan diskusi asinkron. Ada dua topik dalam diskusi asinkron.

1. Berbagi Visi Murid Impian
2. Berbagi Tugas Kesimpulan tentang Inkuiri Apresiatif 

(3) Ruang Kolaborasi

Ruang kolaborasi dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah diskusi dengan anggota kelompok yang dipandu oleh fasilitator yaitu Nida Nurfaidah, yang kedua adalah bagian presentasi hasil diskusi kelompok. Semua dilakukan melalui GMeet. Pada ruang kolaborasi ini, kami dibagi menjadi 2 kelompok dan saya berada dikelompok 1 bersama Bapak Helmi, Ibu Tri Nurhayati, Ibu Iyan, dan Ibu Sisca Desiyana. Di dalam kelompok ini, kami diminta membuat atau menyusun rencana BAGJA dari kalimat Prakarsa perubahan.

Hasil dari diskusi ruang kolaborasi kelompok, bisa dilihat melalui tautan berikut: 


(4) Demonstrasi Kontektual

Di bagian Demontrasi kontekstual ini, saya mendapatkan tugas tentang penerapan inkuiri apresiatif dengan membuat Prakarsa perubahan dengan tahapan BAGJA. Tugas demontrasi kontekstual yang saya buat dapat diakses melalui tautan berikut: 

https://online.fliphtml5.com/okihg/fbzz/

(5) Elaborasi Pemahaman

Di bagian ini, saya ditugaskan untuk memberikan pertanyaan yang dapat menguatkan pemahaman saya tentang isi modul 1.3.

Beberapa pertanyaan yang akan mengguatkan pemahaman saya akan materi konsep di modul 1.3 adalah:

Langkah utama apa yang tepat dalam menyamakan persepsi dengan pimpinan sekolah sebelum merumuskan prakarsa perubahan sesuai pendekatan BAGJA?

Saya juga melakukan elaborasi pemahaman dengan instruktur melalui Gmeet pada Hari Selasa, 26 September 2023 pukul 13.00 – 14.30 WIB. Instruktur yang memandu kegaiatan elaborasi adalah Ibu Ade Mutiarawati.

(6) Koneksi Antar Materi

Bagian ini adalah pengaitan antar materi yang sudah saya pelajari mulai dari modul 1.1, 1.2, dan 1.3. Tugas di bagian ini adalah menjawab kaitan peran pendidik dalam mewujudkan filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara, dan Profil pelajar Pancasila pada murid-murid dengan paradigma inkuiri apresiatif. Selain itu, saya juga harus membuat revisi dan merumuskan dengan penuh keyakinan visi yang telah dibuat berdasarkan jawaban pertanyaan di atas, ke dalam sebuah visi yang membuat saya bersemangat ketika membacanya, dan menggerakkan hati setiap orang yang membacanya.

https://online.fliphtml5.com/okihg/xeku/

(7) Aksi Nyata

Aksi nyata berisi pemahaman saya tentang modul 1.3. yang diterapkan secara nyata. Di aksi nyata ini saya melakukan Prakarsa Perubahan dengan membuat kegiatan pembelajaran yang meningkatkan keaktifan siswa melalui pembelajaran diferensiasi.



2. Feelings (Perasaan)

Selama saya mempelajari Modul 1.3., saya merasa semangat, bangga, senang, dan tentunya tertantang. Saya semangat karena di modul 1.3. ini saya bisa mempelajari materi tentang visi guru penggerak yang cukup mencerahkan bagi saya dan tentunya menambah semangat saya sebagai guru. Saya bisa lebih paham tentang apa itu inkuiri apresiatif, Prakarsa perubahan, dan tahapan BAGJA. Saya bangga karena saya memiliki kesempatan untuk mempelajari materi yang sangat luar biasa dan sangat bermanfaat ini. Saya senang karena bisa berkolaborasi dengan teman CGP lain untuk membuat presentasi tentang pembuatan prakarsa perubahan dengan tahapan BAGJA. Saya juga sangat tertantang dengan tugas-tugas yang diberikan di sela kesibukan saya sebagai guru di sekolah.

3. Findings (Pembelajaran)

Di Modul 1.3. saya mendapatkan materi tentang paradigma inkuiri apresiatif (IA), yakni pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Pendekatan IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi. Saya juga mempelajari tahapan BAGJA sebagai salah satu kegiatan dalam manajemen perubahan. Adapun tahapan dalam BAGJA adalah :

- Buat pertanyaan utama,
- Ambil pelajaran,
- Gali mampu,
- Jabarkan rencana,
- Atur eksekusi.

4. Future (Penerapan)

Setelah mempelajari modul 1.3 tentang visi guru penggerak, saya termotivasi untuk menjadi bagian dari perubahan dan mencoba mulai dari diri sendiri untuk melakukan hal terbaik dalam menentukan prakarsa perubahan guna mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid agar tujuan pendidikan dapat tercapai sejalan dengan pemikiran filosofis Ki Hajar Dewantara yaitu mewujudkan murid agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan.

Saya akan menerapkan inkuiri apresiatif untuk melaksanakan manajemen perubahan di sekolah saya. Saya akan membuat prakarsa perubahan untuk mewujudkan kebiasaan-kebiasaan baru yang tentunya akan mendorong peningkatan kualitas pembelajaran. Kedepannya peningkatan kualitas pembelajaran itu akan lebih cepat dalam mewujudkan siswa dengan karakter profil pelajar Pancasila.

Sebelum itu, saya termotivasi untuk berkolaborasi dengan rekan sejawat dan berkonsultasi dengan kepala sekolah dalam rangka merumuskan Visi Sekolah yang berpihak pada murid. Selain itu, saya juga akan mensosialisasikan paradigma inkuiri apresiatif dengan tahapan BAGJA untuk mempermudah pencapaian Visi Sekolah.

Demikian refleksi dwi mingguan modul 1.3. yang bisa saya tuliskan. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Salam guru penggerak. 

Tergerak, Bergerak, Menggerakkan

Rabu, 20 September 2023

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.2

Nilai dan Peran Guru Penggerak
Oleh Sulaiman CGP Angkatan 9


Assalamu'alikum Wr.Wb

Pada kesempatan ini saya Sulaiman calon guru penggerak angkatan 9 dari SMPN 17 Tangerang Selatan. Saya akan menuliskan jurnal refleksi dwi mingguan modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak. Jurnal ini adalah sebuah tulisan tentang refleksi diri setelah mengikuti kegiatan pelatihan yang ditulis secara runtin setiap dua mingguan, serta salah satu kewajiban yang harus dibuat oleh setiap calon guru penggerak.

Dalam penulisan jurnal refleksi kali ini Saya menggunakan  model 1, yaitu 4 F (fact, feeling, findings, dan future) yang diprakasai oleh Dr. Roger Greenaway.

1. Facts (Peristiwa)

Pada tanggal 1 September 2023 Saya mulai mempelajari modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak. Saya mempelajari modul 1.2. dengan alur MERDEKA, yakni:

a. Mulai dari Diri

Saya mulai mempelajari modul 1.2. dengan membuka tautan mulai dari diri. Di sini saya mendapat tugas untuk membuat trapesium usia dan saya juga melakukan refleksi dengan menjelaskan isi dari trapesium usia yang sudah saya buat. Selain itu, saya juga memaparkan tentang peran saya sebagai guru penggerak.

b. Eksplorasi Konsep

Di bagian eksplorasi konsep, saya mempelajari topik utama, yakni Nilai Kemanusiaan: Kebajikan Universal yang terdiri atas 3 subtopik materi, yakni: 1) Bagaimana Manusia Tergerak, 2) Bagaimana Manusia Merdeka Bergerak, dan 3) Bagaimana Menggerakkan Manusia: menuntun Kekuatan Kodrat Manusia. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan forum berdiskusi tentang nilai dan kegiatan penerapan peran Guru Penggerak di sekolah.

c. Ruang Kolaborasi

Ruang kolaborasi dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah diskusi dengan anggota kelompok dan yang kedua adalah bagian presentasi hasil diskusi kelompok. Ruang Kolaborasi dipandu dan difasilitasi oleh Ibu Nida Nurfaidah selaku Fasilitator. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring memalui google meet. Diskusi kelompok di ruang kolaborasi pertama dilakukan pada Hari Selasa, 5 September 2023 pukul 19.00 - 21.30 WIB. Sementara itu, presentasi hasil diskusi dilaksanakan pada hari Rabu, 6 September 2023 pukul 19.00- 21.30 WIB.



d. Demonstrasi Kontekstual

Pada kegiatan ini, saya mendapatkan tugas untuk menggambarkan diri saya sebagai guru penggerak di masa depan atau ketika sudah menjadi guru penggerak selama tiga tahun.

e. Elaborasi Pemahaman

Saya melakukan elaborasi pemahaman dengan instruktur melalui Gmeet pada hari Selasa, 12 September 2023 pukul 13.00 - 14.30 WIB. Instruktur yang memandu kegiatan elaborasi adalah Ibu Dianindah Apriyani.

f. Koneksi Antar Materi

Pada kegiatan ini adalah pengaitan antarmateri yang sudah saya pelajari mulai dari modul 1.1. dan modul 1.2. Tugas di bagian ini adalah membuat refleksi dengan model 4C.


g. Aksi Nyata

Aksi nyata berisi pemahaman saya tentang modul 1.2. yang sudah saya terapkan secara nyata di sekolah.

Selain melakukan kegiatan sesuai alur M-E-R-D-E-K-A, pada hari Kamis, 14 September 2023 saya juga mengikuti Pendampingan Individu (PI) bersama pengajar praktik kelompok saya, yakni Ibu Romadhona Diah. Dalam PI, Ibu Dona (panggilannya) menggali pemahaman saya tentang materi yang ada di LMS, harapan/kekahwatiran menjadi guru penggerak, aksi nyata, dan portofolio digital.




2. Feelings (Perasaan)

Setelah mempelajari modul 1.2 dan mengikuti serangkaian kegiatan baik belajar secara mandiri maupun diskusi secara virtual, akhirnya saya memahami bagaimana nilai dan peran guru penggerak. Selama saya mempelajari Modul tersebut, saya merasakan perasaan yang tertantang, senang, dan semangat. Saya merasa sangat tertantang dengan melihat waktu pengerjaan dan pengiriman tugas-tugas yang diberikan di sela kesibukan saya sebagai guru di sekolah. Saya merasa senang karena dapat berkolaborasi dengan rekan CGP lain untuk membuat presentasi yang memberikan dampak positif dan mempermudah saya dalam memahami Modul 1.2. Saya semangat karena dapat mempelajari tentang nilai dan peran guru penggerak yang mencerahkan dan menginspirasi bagi saya dalam mempraktikan pada kegiatan pembelajaran di sekolah.

3. Findings (Pembelajaran)

Selama dua minggu mempelajari Modul 1.2 ini, banyak pengalaman dan ilmu yang saya peroleh. Yang pertama saya mendapatkan pembelajaran tentang bagaimana cara kerja otak manusia (thinking fast dan thinking slow). Yang kedua saya belajar tentang 5 kebutuhan dasar manusia, yaitu kasih sayang dan rasa diterima, kekuasaan, kesenangan, kebebasan, dan bertahan hidup. Kemudian, saya juga mempelajari materi tentang nilai dan peran guru penggerak. Nilai guru penggerak di antaranya adalah berpihak kepada siswa, mandiri, kolaboratif, reflektif, dan inovatif. Sementara itu, peran guru penggerak adalah sebagai pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan siswa, dan menggerakkan komunitas praktisi.

4. Future (Penerapan)

Setelah mempelajari dan memahami nilai dan peran guru penggerak di modul 1.2. ini, saya akan menguatkan nilai-nilai guru penggerak yang saya miliki untuk mendukung peran saya sebagai guru penggerak dan saya akan terus berusaha menerapkan beberapa hal berikut: 1) Merancang dan menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid dan menyenangkan dengan menggunakan metode dan media pembelajaran yang menarik, serta memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. 2) Saya akan secara mandiri mengikuti seminar atau diklat baik secara online ataupun offline yang akan menambah wawasan dan meningkatkan kompetensi saya. 3) Lebih banyak melakukan refleksi diri untuk mengevaluasi terhadap kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri saya dan pembelajaran saya yang nantinya dapat dijadikan sebagai proses perbaikan. 4) Bekerjasama dengan rekan dan pemangku kebijakan untuk mencapai tujuan serta untuk mengembangkan proses pembelajaran yang lebih baik. 5) Berkreasi dan berinovasi dalam membuat media pembelajaran .

Demikian refleksi dwi mingguan modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Salam Guru Penggerak! Tergerak, Bergerak, Menggerakkan


Kamis, 31 Agustus 2023

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN

Modul 1.1 

Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Oleh Sulaiman CGP Angkatan 9


Pada kesempatan ini saya Sulaiman calon guru penggerak angkatan 9 dari SMPN 17 Tangerang Selatan. Saya akan menuliskan jurnal refleksi dwi mingguan modul 1.1 tentang Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara. Jurnal ini adalah sebuah tulisan tentang refleksi diri setelah mengikuti kegiatan pelatihan yang ditulis secara runtin setiap dua mingguan, serta salah satu kewajiban yang harus dibuat oleh setiap calon guru penggerak.

Dalam penulisan jurnal refleksi kali ini Saya menggunakan  model 1, yaitu 4 F (fact, feeling, findings, dan future) yang diprakasai oleh Dr. Roger Greenaway.

1. Facts (Peristiwa)

Pada tanggal 16 Agustus 2023 CGP Angkatan 9 resmi dibuka oleh Kemendikbudristek yaitu Bapak Nadiem Makarim, B.A.,M.B.A dan Dirjen GTK melalui zoom dan kanal youtube yang dikuti cgp se Indonesia. Pembukaan juga diisi oleh Kepala Balai Guru Penggerak. Beliau menyampaikan bahwa selama mengikuti diklat guru penggerak diharap para CGP jangan sampai berhenti di tengah jalan karena Bapak/Ibu adalah guru-guru pilihan. Jangan dijadikan alasan karena kendala-kendala yang dapat menghambat proses belajar. Setelah kegiatan zoom meeting seluruh CGP Angkatan 7 wajib mengikuti kegiatan-kegiatan serta pelatihan-pelatihan yang ada di LMS, kegiatan pertama adalah kegiatan pree test yang dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus 2023.

Pada tanggal 19 - 20 Agustus 2023 diadakan Lokakarya Orientasi secara daring dimulai pukul 08.00 dan berakhir pukul 11.00 WIB. Dengan bimbingan Ibu Nida Nurfidah, Bapak Arizal Muhaemin Yunus, dan Ibu Romadhona Diah selaku Pengajar Praktik, Lokakarya Orientasi sunguh sangat menyenangkan dan merupakan kesempatan pertama bagi saya menimba ilmu di pelatihan guru penggerak menuju tahap-tahap pelatihan berikutnya. Semoga saya dapat dapat menyelesaikan program CGP angkatan 9 ini dengan lancar. Ketiga pengajar praktik sangat menyenangkan dalam memberikan pemahaman materi, bahkan memberikan dorongan semangat kepada CGP angkatan 9 agar senantiasa belajar dengan penuh bahagia dan semangat.

Mulai dari mempelajari modul 1.1. tentang Mulai Dari Diri dan Eksplorasi konsep yang dilaksanakan pada tanggal 21 Agustus 2023, Konsep di forum diskusi yang dipimpin dan dipandu oleh fasilitator, dari kegiatan Mulai dari diri dan Eksplorasi konsep ini kami mengetahui dan mulai memahami tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang Pendidikan dan Pengajaran, kami diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan sesama teman Calon Guru Penggerak.


Setelah Kami Mulai Dari Diri dan Eksplorasi yang dilaksanakan secara diskusi selanjutnya Kami berdiskusi dengan fasilitator pada modul 1.1 a.4.1 eksplorasi konsep yang dilaksanakan secara virtual melalui google meet. pada tanggal 22 Agustus 2023.

Dua pekan sudah mulai 21 Agustus hingga 30 Agustus 2023 saya menambah wawasan, mengasah kemampuan melalui LMS tentang Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional -Ki Hadjar Dewantara bersama fasilitator Ibu Nida Nurfaidah. Adapun serangkaian kegiatan yang dipelajari dalam LMS, adalah mulai dari diri (21 Agustus 2023), eksplorasi konsep (22 Agsutus 2023), Ruang kolaborasi (23 dan 24 Agsutus 2023), demonstrasi kontekstual (25 Agustus 2023), elaborasi pemahaman (29 Agusutus 2023) yang disampaikan oleh instruktur Ibu Niky Noberta yang diadakan melalui Google Meet tentang pemahaman secara mendalam konsep dasar pemikiran Filosofis Ki Hajar Dewantara dan relevansinya dengan pendidikan abad 21, koneksi antar materi (29 Agustus 2023) (kesimpulan dan refleksi).



2. Feeling (Perasaan)

Selama mengikuti kegiatan Pendidikan Guru Penggerak ini, Saya merasa senang dan bangga meskipun ada sedikit kendala yang dialami, diantaranya seringkali jaringan internet yang tidak setabil sehingga ada beberapa sesi terlewatkan tetapi hal itu tidak menjadikan alasan bagi Saya untuk tetap semangat belajar dan mengembangkan kompetensi diri serta kesempatan ikut berperan dalam perubahan pendidikan di Indonesia. Selain itu juga ada perasaan ragu dan takut tidak bisa mengikuti kegiatan secara optimal karena berbarengan dan benturan kegiatan sekolah, terkadang muncul perasaan minder karena melihat kecakapan teman-teman calon guru penggerak yang hampir mayoritas hebat-hebat. Namun saya punya semangat untuk belajar dan berkembang sehingga saya percaya diri dengan bekal keinginan yang kuat saya mampu untuk dapat menyelesaikan Program Guru Penggerak ini dengan baik.

Melalui kegiatan pendidikan ini banyak ilmu yang saya peroleh selama menjalani dua pekan mengikuti pendidikan guru penggerak ini, mulai dari bagaimana menjadi pendidik yang seharusnya, bagaimana pendidik harus menghamba pada anak, yang pada awalnya kata "menghamba pada anak" terasa menggajal dipikiran. Saya merasa kata "menghamba" terlalu berlebihan karena jika dalam prespektif agama yaitu hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Namun, setelah berdiskusi dengan teman-teman Saya memahami bahwa pengajar harus total dalam memberikan pendidikan dan pengajaran pada muridnya, dengan mendidik anak sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman, dengan tetap menjaga sosio kultural budaya yang ada. Serangkaian kegiatan yang ada di dalam platform LMS menyadarkan saya bahwa apa yang saya miliki saat ini tentang pendidikan dan pengajaran jauh dari konsep dasar pemikiran filosofis Ki Hajar Dewantara. Kegiatan mempelajari modul secara mandiri melalui LMS merupakan upaya memandirikan diri dalam belajar. Dengan mempelajari modul ini saya berharap bisa menjadi pemimpin pendidikan dan penggerak menuju tansformasi pendidikan yang sesuai dengan zaman dan berlandaskan jati diri bangsa. Menjadi seorang pendidik yang tergerak, bergerak dan menggerakkan.

Saat ini Saya telah menyadari dan berupaya sekuat tenaga dan pikiran untuk menerapkan konsep dasar pemikiran filosofis Ki Hajar Dewantara dalam pembelajaran di ruang kelas. Saya merasa bersalah jika saya tidak tulus mencintai anak didik dalam proses menuntun. Saya harus membiasakan diri untuk memahami karakteristik anak dan tidak serta-merta marah dan memberikan label pada anak yang seringkali membuat kelas tidak kondusif atau bercanda. Namun saya mengarahkannya untuk hal-hal yang positif, menyenangkan dan menunjang pembelajaran. Adapun langkah pertama adalah memahami gaya belajar anak apakah jenis gaya audio, visual, atau kinestetik. Setelah mengetahui saya merumuskan langkah-langkah pembelajaran dengan pemanfaatan media diantaranya media teknologi agar suasana pembelajaan menyenangkan dan tidak membosankan.

3. Findings (Pembelajaran)

Dari pembelajaran Modul 1.1 tentang Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional - Ki Hajar Dewantara ini saya akan berusaha untuk memahami dan mengimplementasikan secara maksimal pemikiran pemikiran KHD sehingga saya bisa menerapkan secara sadar akan pentingnya peran seorang pendidk saya juga akan berupaya untuk menjadi pendidik yang berkualitas dengan selalu terbuka terhadap perubahan dan mengikuti perkembangan teknologi dan mengadaptasikannya sesuai dengan sosio kultural budaya di sekolah. Saya akan berusaha menjadi guru yang dirindukan oleh murid-murid dengan pembelajaran yang menyenangkan dan berpihak pada Murid, saya akan belajar untuk menjadi pemimpin pembelajaran minimal untuk sekolah dan rekan sejawat serta berupaya untuk mengeksplor kemampuan yang selama ini belum maksimal saya kembangkan dan terus berinovasi sehingga pembelajaran saya bisa berjalan dengan baik dan sesuai perkembangan teknologi kekininan. Hal demikian semata-mata dilakukan demi transformasi pendidikan yang berpusat pada anak dan memerdekakan dalam mengembangkan kompetensinya sesuai bakat dan minat yang dimiliki.

Saya menyadari bahwa pendidikan dan pengajaran harus berjalan selaras dengan penghidupan dan kehidupan bangsa agar semangat cinta tanah air dapat senantiasa terpelihara. Ki Hajar Dewantara menekankan agar pendidikan selalu memperhatikan; a) Kodrat Alam, b) Kemerdekaan, c) Kemanusiaan, d) Sosio-kultur, dan e) Kebangsaan Selaras dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD-2009) tentang pendidikan dan pengajaran "pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”,  dengan demikian dapat diartikan bahwa pendidikan merupakan suatu usaha serta fokus pada proses dalam usaha pembentukan mental dan karakter suatu bangsa sesuai dengan lingkungannya.

Artinya setiap anak sudah memiliki bakat dan potensinya masing-masing. Selain itu, berdasarkan filosofis pendidikan yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara, kita harus memandang anak sebagai individu yang unik. Setiap anak punya ciri belajarnya masing-masing, sehingga kita sebagai pendidik harus melaksanakan pembelajaran yang berdiferensiasi.

Wajib bagi pendidik melakukan asessmen diagnostik awal untuk mengetahui kebutuhan, profil, gaya belajar, metode belajar sesuai dengan kondisi anak, sehingga kita sebagai pendidk dapat merancang pembelajaran yang tepat serta sesuai dengan yang dibutuhkan anak yang lebih dikenal dengan istilah ‘berhamba pada anak’. Disisi lain, proses pendidikan dan pembelajaran harus menerapkan budi pekerti yang luhur atau akhlak mulia dengan cara mengintegrasikan setiap proses pembelajaran dengan pencapaian Profil Pelajar Pancasila yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif.

Future (Penerapan)

Pembelajaran Modul 1.1 tentang Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional - Ki Hajar Dewantara ini, memotivasi saya untuk berupaya melakukan hal-hal terbaik dalam proses pendidikan dan pengajaran agar tujuan pendidikan bisa tercapai seiring dan selaras dengan konsep dasar pemikiran filosofis Ki Hajar Dewantara. Seperti : Mengubah metode dan model pembelajaran di kelas yang dulu saya selalu memberi batasan-batasan dalam tugas, kini siswa bisa menyelesaikan tugas sesuai kreatifitasnya akan tetapi tetap sesuai dengan materi. Mengubah pandangan bahwa anak bukan seperti kertas putih kosong melainkan tabula rasa ( samar-samar sudah ada goresan dan tugas pendidik mempertebal lakunya) Mengubah cara pandang terhadap anak yang semula berorientasi pada nilai menjadi berorientasi pada proses. Merancang dan melakukan asessmen diagnostik awal untuk mengetahui profil anak. Merancang pembelajaran sesuai dengan hasil asessmen diagnostik awal yang telah dilakukan, Membuat kesepakatan di awal pembelajaran. Melaksanakan pembelajaran yang berinovasi dengan metode berkolaborasi, mandiri dan menyenangkan bagi peserta didik sehingga pendidikan berpusat pada peserta didik.


Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.2

Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional Oleh : Sulaiman CGP Angkatan 9  SMP Negeri 17 Tangerang Selatan Kali ini saya akan menulis menge...